Hak Pejalan Kaki yang Terabaikan

Transportasi merupakan perpindahan barang dan atau manusia dari suatu tempat ke tempat yang lain. Transportasi manusia dapat dilakukan dengan berbagai cara; selain dengan menggunakan kendaraan perpindahan ke suatu tempat dapat dilakukan dengan berjalan kaki, dimana terdapat berbagai macam fasilitas untuk para pejalan kaki, diantaranya: trotoar, jembatan penyeberangan, zebra cross, dan sebagainya.

Namun pada kenyataannya, pengembangan fasilitas pejalan kaki di Indonesia kurang menjadi prioritas dibandingkan pengembangan jalur untuk moda transportasi lainnya terutama kendaraan bermotor, sehingga pejalan kaki berada dalam posisi yang lemah. Bahkan menurut hasil penelitian yang dilakukan di DKI Jakarta oleh Lembaga Swadaya Masyarakat bidang perkotaan Pelangi bersama Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) dan Institut Transportasi (Intrans) bahwa keselamatan pejalan kaki terancam akibat minimnya fasilitas untuk pedestarian. 65 persen korban kecelakaan lalu lintas berakibat kematian, adalah pejalan kaki, yang mana 35 persen diantara korbannya adalah anak-anak (diunduh dari http://www.tempo.co.id/hg/jakarta/2003/10/22/brk,20031022-07,id.html pada tanggal 25 September 2011; pukul 20:30)

Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang ada di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2006 tentang Jalan dan juga Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan. Di sana tercantum bahwa salah satu kelengkapan jalan adalah trotoar.

Cukup dengan basa-basi dengan bahasa kaku yang saya gunakan, intinya pejalan kaki di Indonesia terabaikan haknya dengan tidak diadakannya jalur pedestrian yang layak. Kenapa penulis berkata demikian? Penulis sebenarnya juga sudah melakukan survey kecil-kecilan di sekitar tempat penulis tinggal yaitu di daerah cisitu (penulis kost di daerah ini.red). Tidak jarang, penulis juga berangkat kuliah dengan berjalan kaki untuk hemat pemakaian energi (dan hemat uang tentunya). Nah dalam perjalanan ke kampus maupun sebaliknya penulis menemukan sedikit ketidaknyamanan dalam berjalan kaki. Terutama di daerah cisitu lama.

Disini sama sekali tidak dijumpai adanya trotoar, bahkan bahu jalan yang mungkin ditujukan untuk pejalan kaki tampak tidak nyaman. Keadaan yang memprihatinkan

Lihat saja keadaan bahu jalan di atas, sangat tidak layak untuk digunakan pejalan kaki. Selain kenyamanan, di sini faktor keamanan juga terabaikan. Apalagi sering ditemukan mobil yang parkir di bahu jalan maupun benda-benda lain yang diletakkan oleh oknum tidak bertanggung jawab seperti tumpukan pasir, bata, dan gerobak pedagang.

Apalagi kalau jalanan macet seperti gambar di bawah ini, kadang kala ada pengendara sepeda motor yang menyalip mobil di depannya melalui bahu jalan yang seharusnya digunakan oleh pejalan kaki.

Kalo macet

Mungkin, hal ini juga yang menjadi penyebab membludaknya jumlah kendaraan di Indonesia. Mengapa demikian? Karena masyarakat melakukan penolakan terhadap kendaraan umum dan jalur pejalan kaki. Meraka lebih merasa aman dan nyaman berada di kendaraan pribadi mereka. Jadi menurut hemat saya, keberadaan jalur pejalan kaki bukan saja hanya masalah orang-orang yang mau berjalan kaki, namun lebih kepada mengajak masyarakat luas untuk berjalan kaki saat bepergian jarak dekat.

Dengan demikian angka kemacetan juga dapat berkurang, masyarakat tidak perlu mengeluarkan mobil ataupun motor mereka hanya untuk bepergian ke tempat yang hanya berjarak 1 km saja. Bukan tidak mungkin kita akan melihat pemandangan seperti ini di Indonesia. Lalu Lintas Pejalan Kaki

Ya, semua ini bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah. Saya juga tidak bisa menyalahkan pemerintah. Mungkin pemerintah sudah terlalu banyak masalah untuk dipikirkan. Sekarang saatnya kita para pemuda memulai. Kita disekolahkan di universitas juga berkat subsidi dari pemerintah. Pemerintah memberikan subsidi itu, agar kita dapat memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi. Janganlah menjadi mahasiswa kolot yang hanya menyalahkan pemerintah. Ayo lakukan pergerakan!

Come Back!

Sebelumnya saya vakum dari dunia blog selama satu tahun lebih guna konsentrasi tahun terakhir masa-masa SMA. Ya! Masa-masa penuh kenangan itu telah saya lewati. Dan sekarang saya telah menjadi MAHASISWA. Sebenarnya ada sedikit hal yang mengusik pikiran saya, kenapa dijenjang perguruan tinggi di Indonesia pelajarnya disebut sebagai mahasiswa? Padahal bila kita lihat di negara barat sana seorang pelajar perguruan tinggi tetap disebut sebagai student. Tidak ada embel-embel GREAT, BIG, atau SUPER.

Setelah perenungan yang cukup lama, saya berpendapat bahwa di Indonesia sendiri mahasiswa dianggap sebagai kaum intelek. Hanya sebagian kecil rakyat Indonesia yang bisa mengenyam bangku kuliah. Oleh karena itu, kaum mahasiswa sangat diharapkan sebagai kaum pembangun bangsa. Tangan dan keringat mereka dinantikan ratusan juta rakyat Indonesia untuk merombak Indonesia menjadi lebih baik. Mungkin pembaca sekalian sedikit bingung mengapa hanya kaum mahasiswa yang dinantikan penuh harap. Bukan anggota DPR, PNS dan yang lainnya? Karena kaum mahasiswa merupakan kaum independen yang diharapkan memberikan pandangan yang tidak memihak. Pandangan yang luas tak terbatas.

Akhir kata, saya menjadi mahasiswa selain bangga juga merasa beban di bahu semakin berat. Berat dengan harapan-harapan rakyat Indonesia. Apakah saya siap untuk mengabdi? Apakah kita siap?

Kakakku Sayang Kakakku “malang”

Ya! ungkapan di atas sering saya ucap sehari-hari. Ungkapan tersebut terucap lebih tertuju kepada kakak kelas saya yang sekarang sedang melalui serangkaian acara sebelum mereka merasakan bangku kuliah.. Mungkin sebagian dari pembaca langsung mengetahui acara apa yang saya maksudkan.. Acara itu adalah serangkaian test yang hampir selalu ber”embel-embel” UJIAN.

  • UJIAN NASIONAL

Ujian Nasional merupakan BIG event bagi seluruh siswa kelas akhir di setiap jenjang pendidikan. Dalam hal ini saya sepertinya akan berbicara banyak mengenai UN SMA. Karena memang saya adalah siswa SMA. UN sampai sekarang pun seakan menjadi polemik di antara masyarakat. Ada yang pro, namun ada juga yang kontra. Pemerintah seharusnya berpikir sangat keras untuk memilih jalan yang terbaik baik kedua belah pihak. Namun, kita juga harus menilik ke negeri lain yang lebih maju dari kita. Bagaimana sistem pendidikan di negara tersebut. Apabila sekiranya cocok diterapkan di negeri kita tercinta ini. Apa salahnya kita mencoba? Kalau toh hal itu memang demi kepentingan rakyat bersama. Bahkan menurut curhatan Mas Tom (penilik sekolah RSBI dari australia yang sempat datang ke sekolah saya.red) di aussie sendiri tak ada yang namanya NATIONAL EXAMINATION.. Yang ada hanyalah Ujian Sekolah. Karena hanya sekolah yang mangerti kemampuan siswanya sendiri. Namun, apakah sistem tersebut patut diterapkan di Indonesia. Apakah dengan sistem tersebut dapat secara signifikan meningkatkan taraf SDM masyarakat Indonesia? Entahlah. Yang jelas yang sampai sekarang masih penulis pertanyakan adalah, untuk apa kita melakukan UN bila akhirnya nilai yang kita dapatkan saat UN itu tidak digunakan untuk masuk perguruan tinggi. Cukup miris.

  • UJIAN PRAKTIK (PRAKTIKUM)

Bagi sebagian siswa mungkin rangkaian acara yang satu ini tidak terlalu dijadikan momok yang berarti. Namun ada beberapa siswa yang merasakan tekanan yang sangat berat. Bagaimana tidak selang beberapa hari UN langsung dilanjutkan dengan Ujian Praktik.

  • UJIAN MASUK PERGURUAN TINGGI

Setiap siswa pasti ingin melanjutkan sekolah di Universitas yang wah! Untuk diterima di Universitas tersebut ada beberapa “pintu” yang harus kita pilih. Lewat manakah kita akan masuk? Salah satu “pintu” itu adalah melalui UM. Dan bagi sebagian orang UM dirasa berat. Karena standar yang digunakan adalah standar Universitas tersebut. Jelas saja standar yang digunakan (umumnya) lebih tinggi dibandingkan dengan UN. Padahal kita ketahui bersama bahwa UN sudah cukup menjadi momok di kalangan siswa.

  • UJIAN SEKOLAH

Sudah ada UN adalagi US. Mapel yang diujikan pada waktu US adalah mapel yang tidak di-UNkan. Sebagian besar siswa mungkin menganggap remeh US. Karena bagi mereka masa ada guru yang tega tidak meluuskan siswanya sendiri.

Namun yang jelas serangkaian kegiatan UJIAN ini sedikitnya telah menguras tenaga para peserta. Selain tenaga otak mereka juga dipaksa untuk melakukan semua kegiatan itu dalam waktu yang nyaris bersamaan. Sungguh “malang” nasib mereka. Mengapa saya menggunakan tanda kutip pada kata “malang”? Itu lebih disebabkan karena penulis akin serangkaian UJIAN itu dapat membuat Indonesia bergerak ke arah yang lebih maju.

AMIEN..

Sebuah Pencarian

Di sebuah sekolah di pulau terpencil di selatan si raksasa, Pulau Kalimantan. Terdapat Sekolah Menengah Atas dengan gedung yang sangat sederhana. Namun memiliki banyak peminat. Karena, tak ada pilihan lain bagi masyarakat untuk melanjutkan sekolah di sana. Bila tidak mereka akan memilih bekerja menjadi nelayan seumur hidupnya. Ya, sebenarnya hanya sebagian lulusan sekolah tersebut yang melanjutkan kuliah dan sebagian besar lainnya memilih bekerja sebagai TKI. Sebuah pekerjaan yang dipuja di pulau itu. Bagi mereka bila salah satu anak mereka menjadi TKI, itu sudah merupakan perbaikan nasib keluarga. Karena selama berpuluh-puluh tahun mereka telah menjadi keluarga nelayan yang miskin. Bahkan tak sedikit di antara mereka mengadakan pesta besar-besaran untuk melepas anak mereka yang menjadi TKI.

Sekolah tersebut hanya terdiri dari 11 ruangan dengan satu ruang guru dan satu laboratorium IPA. Itupun hanya dengan perlatan-peralatan yang sangat sederhana. Di bagian depannya terdapat lapangan upacara dengan tiang bendera yang miring. Sehingga banyak dari siswa yang ketakutan tertimpa tiang bila ditugaskan mengibarkan bendera. Saat itu jam pelajaran, namun banyak siswa yang berkeliaran di luar kelas. Anehnya tak ada guru yang menegur bujang-bujang penerus bangsa itu yang hobinya hanya membuat onar di sekolah itu.

Di sebuah kelas berpintukan kayu lapuk dengan papan menggantung yang bila tersentuh ekor cicak yang bergoyang kelaparan seperti akan jatuh menimpa kepala orang yang lewat. Papan itu bertuliskan XI-IPA. Sedang ada kesibukan di kelas tersebut. Seorang guru di depan memanggil setiap anak untuk ke depan kelas dan memberikan secarik kertas sobekan buku, membagi hasil ulangan. Ekspresi setiap anak yang telah menerima hasil kerja keras mereka semalaman berbeda. Ada yang tersenyum simpul penuh arti, ada yang menundukan kepala sembari melipat dan meletakan hasil ulangan mereka ke saku celana, dan ada pula yang menunjukan mimik keheranan.

“Seperti biasa yang memperoleh nilai tertinggi di kelas adalah Reza Syahdana,” ucap sang guru tersebut dengan mimik bangga. Seluruh anak bersorak bertepuk tangan dan bahkan ada yang bersiul seakan mereka telah menyaksikan pemain sepak bola idola mereka mencetak gol.

Seorang pemuda berkulit sawo matang, berambut cepak, dengan wajah seperti anak kampung kebanyakan beranjak dari tempat duduknya. Dialah Reza Syahdana atau yang biasa dipanggil oleh temannya Reza. Dia berjalan kalem di tengah hingar bingar teman-temannya yang bangga terhadapnya. Menuju sang guru dan tersenyum datar pada sang guru yang memberikan ucapan selamat padanya. Setelah itu, ia berjalan kembali ke tempat duduk dan terdiam tanpa ekspresi.

*****

Lonceng kumal yang terbuat dari kuningan telah berdentang keras dan seluruh siswa berhamburan keluar dari ruangan kelas mereka. Ada yang langsung berlari menuju warung kopi tempat kumpul para siswa nakal di sekolah tersebut, ada yang berjalan berdua mesra merasakan indahnya dunia bersama sang kekasih dan adapula yang bersepeda pulang ke rumah. Reza, pemuda pintar dan pendiam itu berjalan lambat namun pasti. Tujuannya bukanlah ke rumahnya yang hanya berjarak seratus meter dari sekolah. Namun, ia berjalan melawan arah. Menyusuri jalan setapak yang mengarah ke hutan.

Dia terus berjalan sendirian, tak ada yang berjalan di jalan itu selain dirinya. Hingga akhirnya sayup terdengar suara gemuruh air. Dan terlihatlah mulut tebing yang tinggi nan curam dihadapannya. Tebing itu sangat tinggi di bawahnya banyak ombak besar menampar dinding tebing seakan menguji kekuatan tebing yang berdiri kokoh dengan sombongnya tersebut. Di dekat tebing terdapat tanah lapang yang berisikan tumpukan barang bekas yang menggunung. Di balik berbukit-bukit tumpukan barang bekas itu terdapat gubuk kecil dengan seorang pria tua sedang duduk santai di depan gubuk. Rezapun tersenyum lebar dan melambaikan tangannya pada pria tua tersebut.

Pria itu hanya tersenyum dan kemudian membalas lambaian Reza dengan berteriak, “Ayo ke sini ! Kau masih mau mendengarkan ceritaku kan?”

“Tentu saja!” balas Reza dan kemudian berlari mendekat ke gubuk tersebut, mendekatkan sebuah kursi reyot ke tempat pria tersebut duduk, di kursi yang sama reyotnya. Reza tersenyum kepada pria tua yang ternyata bernama Winarto tesebut.

Winarto atau yang biasa dipanggil masyarakat pulau tersebut dengan sebutan Pak Win, merupakan pejuang kemerdekaan dari Jawa yang ditugaskan di Kalimantan. Dia terdampar di pulau terpencil tersebut karena mencintai gadis pulau yang ditemuinya di Kalimantan. Sudah sepuluh tahun dia menduda, karena si Gadis yang telah jadi istrinya itu meninggal karena penyakit kronis. Saat ini dia bekerja menjadi satu-satunya pengumpul barang rongsokan di pulau tersebut untuk di pilah dan di kirim ke Kalimantan ,agar di daur ulang menjadi souvenir atau barang rumah tangga lainnya.

Perawakannya kurus, dengan rambut penuh uban. Dari wajahnya terlihat bahwa dia adalah orang Jawa tulen yang menempuh kerasnya hidup di peperangan jauh dari tanah kelahirannya. Perawakannya tak terlalu tinggi. Kakinya pincang sebelah karena luka perang. Dia adalah satu-satunya orang yang akrab dengan Reza. Dia selalu menceritakan jaman perang kemerdekaan pada Reza. Begitupula dengan Reza, dia selalu mencurahkan perasaannya bila gembira maupun sedih. Reza seakan berubah seratus delapan puluh derajat dari seorang pemuda pendiam yang sangat tertutup bahkan kepada keluarganya sendiri, menjadi anak yang terbuka dan ceria di hadapan Pak Win. Dia merasakan ada perbedaan dalam diri Pak Win daripada  orang lain yang pernah ia kenal. Tentu saja selain perbedaan suku di antara mereka.

Seperti biasa Pak Win menceritakan perjuangannya di medan pertempuran. Dia juga menceritakan bahwa pulau terpencil tempat kelahiran Reza dan tempat dirinya berpijak sekarang, dulu merupakan markas rahasia pejuang kemerdekaan untuk memantau markas militer Belanda yang jaraknya hanya beberapa mil dari pulau tersebut. Namun, markas pejuang di pulau tersebut kemudian di serang dan pasukan melarikan diri ke pulau kecil lebih ke selatan dan diam-diam para pejuang menuju daratan Kalimantan. Tak heran jika di pulau tempat Pak Win dan Reza bercengkrama saat ini sering ditemukan granat maupun senjata sisa perang lainnya.

”Oh ya, bagaimana sekolahmu Reza ?” tanya Pak Win di sela ia menceritakan kisah hidupnya yang penuh darah dan air mata.

“Seperti biasa Pak Win. Tak ada yang spesial dalam hidupku. Semua berjalan datar dan hampa. Setiap pagi ke sekolah kemudian pulang ke rumah dan belajar. Kegiatan rutin yang sangat membosankan. Tak ada petualangan maupun tantangan yang berarti di hidupku. Aku ingin hidupku penuh tantangan seperti dalam hidup Bapak selama ini. Berperang melawan penjajah dan merebut kemerdekaan,” ucap Reza panjang lebar.

“Reza, kau belum berubah. Kau masih belum bisa mensyukuri hidup. Kau masih belum menemukan perjuangan apa yang kau harus lakukan sekarang. Dan kau juga belum dapat memahami dan menemukan tantangan yang sebenarnya lebih besar dan berat dari perang kemerdekaan,” ucap Pak Win sambil menunjukan senyuman penuh arti. Reza hanya tertunduk termenung memikirkan ucapan Pak Win barusan.

*****

Langit telah menunjukan keindahannya. Berwarna jingga dihiasi dengan siluet merah yang berlapis seakan sebuah tangga panjang yang menuntun kita menuju keindahan abadi. Reza baru saja pulang ke rumahnya. Dia baru saja pulang dari rumah Pak Win. Rumah Reza seperti rumah lain di sekitarnya. Hanya terbuat dari anyaman bambu dan kayu. Dengan halaman berhiaskan bunga dan rumput sederhana yang tersusun rapi. Seperti rumah di pedesaan pada umumnya.

Reza segera masuk ke kamar meletakan tas, mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri melepaskan penat. Ibunya hanya memandang bujang kesayangannya itu sesaat dan kembali menyibukan diri menjahit baju pesanan tetangganya yang akan pergi ke acara hajatan keluarganya lusa di daratan Kalimantan. Ibunya seakan telah mengetahui ke mana si bujang itu pergi hingga pulang menjelang maghrib begini. Sedangkan ayahnya sedang bersiap pergi untuk menebar jala di laut lepas, mencari nafkah demi menghidupi keluarga kecil yang sangat ia sayangi.

Setelah selesai mandi Reza segera menuju kamar, mengambil sarung dan sajadah. Kumandang adzan telah terdengar. Dia pamit kepada ibunya untuk shalat maghrib di Mushala dekat rumahnya. Setelah selesai shalat maghrib, dia kembali ke rumahnya. Dia segera makan malam. Sebuah makan malam yang sangat jauh dari makanan kelas hotel bintang lima. Makanan seadanya dengan lauk ikan asin dan sambal. Dia duduk beralaskan tikar bersama ibunya. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ibunya sama pendiamnya dengan Reza. Sehingga mereka makan dalam kebisuan. Sebuah kebisuan yang terasa menusuk tulang di tengah kepekatan malam.

Setelah itu Reza pamit kepada ibunya untuk tidur. Namun sebelum ia beranjak tidur, ia kembali membaca buku catatan sekolahnya. Baginya tak ada waktu untuk tidak belajar. Walaupun esok ia akan libur empat hari.

Setelah belajar, dia membuka memonya dan mencatat apa yang akan ia lakukan selama liburan. Hanya satu kalimat yang ia garis bawahi yaitu kalimat, “aku harus menemukan jawaban atas perkataan Pak Win tadi.” Dan iapun beranjak tidur.

*****

Esoknya Reza berjalan-jalan berkeliling pulau bahkan sempat terpikir pikiran gila di benaknya untuk mengelilingi pulau berniat mencari jawaban atas perkataan Pak Win kemarin. Di tepi pantai ia terduduk termenung memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menemukan jawaban tersebut. Dia terus menunggu, hingga nampak di kejauhan sebuah perahu berwarna merah bergambar burung alap-alap bertuliskan ”petualang bahari”. Reza segera mendekat dan tersenyum melihat orang yang di dalam perahu itu  melambai kearahnya. Dia adalah Sinam, bocah seumurnya yang telah bekerja menjadi nelayan. Dulu ia dan Sinam  pernah bersekolah di SMP yang sama. Namun, Sinam lebih memilih menjadi nelayan daripada melanjutkan sekolah. Selain karena nasib keluarga yang kurang beruntung, dia juga memiliki alasan lain. Yaitu tak ingin menjadi TKI.

“Hai, kawan! Bagaimana sekolahmu?” ucap Sinam setelah merapatkan perahunya.

“Biasa saja. Aku tak tahu mengapa hidupku begitu datar. Mungkin aku lebih baik jadi nelayan,” ucap Reza kemudian tertawa lepas. Sudah lama ia tak bertemu dengan kawan lamanya itu.

“Ah, jangan begitu! Kau adalah anak yang beruntung. Kau harusnya bersyukur dapat melanjutkan sekolah. Kau tahu, kau termasuk separuh orang yang beruntung di antara seluruh anak di pulau ini,” ucap Sinam panjang lebar sambil tersenyum seakan bangga dirinya yang hanya seorang nelayan menasehati seorang anak sekolahan.

“Kau betul. Aku terlalu egois. Terlalu berpikiran sempit. Dan sekarang aku baru tahu ternyata ada anak penyebar jala cerdas yang menaiki perahu merah alap-alap petualang bahari,” ujar Reza dan tertawa. Namun begitu, ia telah menyadari sesuatu dari perkataan Sinam.

“Oh ya aku ingin tahu bagaimana petualanganmu selama ini di laut lepas. Aku harap aku dapat menemukan petualangan yang sehebat kau alami,” ucap Reza lagi.

Dia kemudian kembali melakukan pencarian mengelilingi kampungnya. Saat ia berjalan di depan kantor kelurahan, ia melihat sekelompok orang menari tarian selamat datang di hadapan beberapa orang yang nampak berbeda dari orang pulau lainnya, berpakaian kemeja dengan jas putih. Beberapa diantaranya mengalungi stetoskop. Ya, Reza baru ingat mereka adalah para dokter yang magang di daerah-daerah terpencil. Dan Reza juga mengenal salah satu dari mereka, ia adalah Eni saudara jauhnya yang tinggal di Pontianak. Dan sepertinya Eni masih mengenali Reza.

Setelah acara sambutan di kantor kelurahan Reza mendekati Eni.”Mbak Eni masih ingat nggak sama aku? Aku Reza anak Pak Ahmad.”

“Tentu saja aku masih ingat betul. Kau kan yang waktu datang ke rumahku langsung minta diantar ke tugu katulistiwa kan? Jelas aja dong aku masih ingat.”

Setelah perbincangan basa-basi itu Reza mengajak Eni ke rumahnya. Di sana mereka mengobrol panjang lebar seputar kedokteran, keadaan keluarga di Pontianak dan tentang sekolah Reza.

“Reza, aku dengar kau anak yang pintar di sekolah. Kau harus tekun belajar Za. Kau harus ingat betapa sulit orangtuamu mencari nafkah untukmu. Dan kau juga harus tahu perjuangan kakek-nenek buyutmu pada masa perjuangan dulu. Mereka selalu berjuang demi anak cucu mereka. Agar kelak keturunan mereka merasakan perdamaian. Dan untuk membalas jasa mereka, kau harus mempertahankan kemerdekaan dan menunjukan di mata dunia kekuatan negara kita yang sesungguhnya. Ingat, mempertahankan lebih sulit daripada merebut kemerdekaan,” ucap Eni panjang lebar.

Reza termenung. Jawaban saudara jauhnya yang pandai itu amat mengejutkan dirinya. Karena secara tidak langsung, perkataannya menjawab pencariannya selama seharian ini. Selama beberapa menit Reza termenung dengan air mata mengambang di pelupuk matanya, betapa bodohnya ia selama ini tidak bersyukur dan menganggap kehidupannya yang sebenarnya sarat dengan perjuangan itu sebagai hal yang datar dan hampa.

Reza dikejutkan oleh kedatangan ibunya. Setelah ibunya dan Eni mengobrol panjang lebar, Reza pamit kepada ibunya untuk menemui Pak Win.

Di tengah perjalanan menuju rumah Pak Win, ia melihat seseorang jauh di atas bukit kecil di seberang sungai. Orang itu membawa karung dan tongkat penjepit sampah. Orang itulah yang sedang ia cari. Pejuang kemerdekaan yang sekarang bekerja sebagai pencari sampah. Reza tersenyum dan mendekat, namun kemudian dia berhenti dan mengerutkan kening. Menyiratkan ada yang aneh dengan Pak Win.

Pak Win hanya berdiri kaku memegang sesuatu yang berbentuk seperti nanas kecil. Dia membelalakan mata. Wajahnya pucat pasi. Badannya bergetar hebat. Seperti ada kenangan buruk yang berkaitan dengan benda itu. Pikirannya kembali melayang ke jaman perjuangan di mana ia melihat penjajah melempar benda semacam itu ke arah kawan-kawannya yang tepat berada di depannya. Tiba-tiba benda itu meledak, menimbulkan asap yang sangat membutakan mata. Terlihat kawan-kawan seperjuangannya jatuh bergelimpangan penuh luka. Beruntung bagi Pak Win muda karena ledakan itu hanya menyisakan kepincangan di kakinya. Namun kepincangan itu, tak sebanding dengan rasa sakit hatinya yang kian hari kian menyakitkan. Matanya terbelalak ketika menyadari benda yang membuat para pejuang gugur di medan tempur sekarang ada di tangannya. Benda itu adalah granat.

Reza yang menyadari ada sesuatu yang aneh segera berlari menuju jembatan panjang yang menghubungkan dua sisi sungai yang lebar itu. Sementara Reza terus berlari, tubuh Pak Win semakin tak karuan. Keringat dinginnya keluar deras. Badannya bergetar hebat. Dan tanpa di sadari granat itu jatuh dan menggelinding beberapa meter dari Pak Win. Saat Reza ingin berteriak agar Pak Win lari menghindar, saat itulah granat itu meledak. Reza berteriak bagai orang gila, menangis sejadi-jadinya. Semua warga desa berlarian menuju ke arah Reza dan merasa amat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kemudian asap putih bom kematian tersebut pergi terbawa angin, Reza mendekat ke sosok yang ia kenal tengah meregang nyawa. Sesosok pejuang kemerdekaan terkapar dengan separuh tubuh penuh luka. Sungguh pemandangan yang sangat menyayat hati. Rezapun memeluk lelaki tersebut.

“Pak Win saya telah menemukan apa yang saya cari. Saya akan berjanji untuk memegang teguh prinsip itu. Tapi mohon jangan pergi!” Reza terus menangis dan berteriak. Seluruh warga desa mendekat. Ibunya, ayahnya, Sinam, dan Eni semua ada di sekitarnya menatap tak percaya atas kejadian yang mereka lihat.

Tiba-tiba di dalam kelopak matanya, bola mata Pak Win seperti bergerak. Ia membuka matanya. Menatap Reza dalam-dalam, dan tersenyum puas. Kemudian kembali tidur untuk selamanya dalam kedamaian senyuman kepuasan atas keberhasilan pemuda pendiam yang dikenalnya. Pemuda yang akan membanggakan nusa, bangsa dan negara di masa mendatang.

Purwokerto    , 2 Maret 2009

                                                                                                Penulis,

 

 Rahmandanu Jalu Pradana

                                           

  SELESAI

Apa Yang Kita Harus Lakukan ???

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Masih teringat dibenak kita tanggal 28 Oktober kemarin merupakan peringatan Sumpah Pemuda yang ke 81. Delapan puluh tahun yang lalu tepatnya tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia bersatu padu untuk mengusahakan kemerdekaan ditanah air Indonesia. Bisa dikatakan peristiwa tersebut merupakan batu loncatan bagi pemuda Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Pada tahun 1945, para pemuda juga lah yang mendesak proklamasi untuk segera dilaksanakan. Sehingga Indonesia mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Para pemuda pada masa itu, senantiasa berjuang untuk kemerdekaan bangsa. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai pemuda yang hidup saat Indonesia sudah merdeka??? Banyak yang harus kita contoh dari pemuda pada jaman dahulu. Mereka senantiasa bersatu untuk mencapai satu tujuan yaitu kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu kita para pemuda Indonesia juga harus bersatu untuk mencapai suatu tujuan yang tak kalah berat dari memperjuangkan kemerdekaan, yaitu kita harus bersatu mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari segala aspek kehidupan.

Mengapa saya mengatakan dalam segala aspek? Ya, sadarkah kita bahwa Indonesia memang telah merdeka dari kolonialisme para negara penjajah. Namun apakah Indonesia telah merdeka dari kemiskinan? Merdeka dari penjajahan budaya? Merdeka dari korupsi? Merdeka dari ancaman penyakit menular? Merdeka dari busung lapar? Merdeka dari pengangguran? Mungkin sudah bisa terjawab dari benak kita masing-masing. Lalu bagaimana kita dapat mempertahankan kemerdakaan? Banyak cara yang bisa kita lakukan. Di sini saya bukan maksud menggurui, hanya saja saya ingin kita renungkan bersama apa yang dapat kita lakukan untuk Indonesia.

1. Senantiasa menjaga kebersihan lingkungan.
Apa hubungannya menjaga kebersihan lingkungan dengan mempertahankan kemerdekaan? Mungkin pertanyaan tersebut muncul dari benak kita. Sebenarnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia kita harus mencintai Tanah Air Indonesia secara keseluruhan. Dalam mewujudkan rasa cinta terhadap Indonesia ada banyak cara yaitu dengan senantiasa menjaga kebersihan. Kebersihan itu juga berpengaruh pada masalah kesehatan di masyarakat. Kita sebagai pemuda harus turun langsung dan mengajak para pemuda yang lain untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan.

2. Cintai produk dalam negeri.
Akhir-akhir ini kita dijajah produk import yang kian merajalela. Tak sadarkah ita banyak dari produsen lokal yang bangkrut akibat barang produksinya tidak laku di pasaran. Bangkrutnya produsen lokal tersebut juga mengakibatkan masalah lain seperti kemiskinan dan banyaknya pegawai yang di PHK. Bila bicara kualitas, produk lokal kita tak kalah dari produk import. Sehingga berusahalah untuk menggunakan produk dalam negeri agar produsen lokal kembali menggeliat dan selalu meningkatkan kualitas barangnya serta akan menambah lapangan pekerjaan yang akan memecahkan masalah pengangguran. Bahkan siapa tahu produsen lokal kita akan menjajal pasar asing dan negara Indonesia menjadi negara produsen yang maju.😄

3. Bawa nama Indonesia ke kancah Internasional
Salut saya katakan kepada para wakil Indonesia di kompetisi-kompetisi bergengsi di dunia. Mereka memperjuangkan nama Indonesia agar selalu berkibar. Agar seluruh negara di dunia tahu bahwa Indonesia sesungguhnya bisa. Dalam Olimpiade olahraga, Olimpiade sains, dan ajang begengsi lainnya. Bagi kita yang mungkin tidak punya kemampuan untuk melakukan itu, teruslah belajar dan berlatih untuk terus mengharumkan nama Indonesia lewat jalur yang lain…

4. Selalu berfikir kreatif dan Inovatif
Jangan pernah puas dengan segala teknologi dan penemuan yang telah ada. Selalulah berfikir kreatif untuk mencari dan menemukan teknologi baru. Teknologi yang berguna bagi rakyat banyak. Bahkan berguna untuk warga dunia.

5. Mulailah dari diri sendiri dan dari sekarang.
Inilah yang paling penting sebenarnya. Kita harus memulai dari diri sendiri untuk bertekad memajukan bangsa dan negara Indonesia tercinta. Dan mulai dari sekarang janganlah menunda-nunda. Let’s do it !!!

Sekali lagi saya tekankan, saya tidak ada maksud menggurui hanya saja saya ingin kita bersama-sama bersatu dan bergerak menuju satu tujuan yaitu Indonesia yang lebih baik. We can if we think we can… SEMANGAT PARA PEMUDA INDONESIA!!!!

BUDAYA BANYUMAS

Akhir-akhir ini banyak budaya Indonesia yang terancam keabsahannya sebagai budaya asli Indonesia. Di sini saya akan sedikit mengulas tentang prosesi-prosesi adat di tempat tinggal saya di kabupaten Banyumas. Semoga bermanfaat dan dapat menarik minat wisatawan..😄.

  • Kirab Prosesi Pusaka Banyumas (Banyumas Heirloom Procession)

Prosesi Kirab Pusaka dilaksanakan dalam rangka hari jadi Kabupaten Banyumas. Hari Jadi Kabupaten Banyumas (berdiri 5 April 1582) yang diiringi oleh seluruh Punggawa Banyumas dengan Pakaian Tradisional dari Pendopo ex Kotatip Purwokerto menuju Pendopo Si Panji Kabupaten Banyumas yang dilaksanakan setiap tanggal 5 April. Adapun pusaka yang dikirab terdiri dari Tombak Kiai Genjring, Keris Nala Praja, Keris Gajah Endra, dan Pustaka Mulia Stambul (Quran berukuran kecil). Kirab yang bernuansa budaya Jawa tersebut, dimulai dari Pendopo Wakil Bupati (eks Kantor Kota Administratif Purwokerto) dan diawali dengan upacara berbahasa Jawa yang diisi dengan penyerahan pusaka kepada petugas kirab oleh Bupati Banyumas.Turut serta dalam prosesi ini adalah visualisasi dari Adipati Mrapat(Julukan/Gelar Raden Joko Kalman, Bupati Banyumas yang Pertama) dengan keluarganya dan Suba manggalanya.

  • Prosesi Grebeg Suran (Grebeg Suran Procession)

Grebeg Suran dilaksanakan pada bulan Sura setiap Selasa/Jumat Kliwon di lokawisata Baturraden. Prosesi ini merupakan ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia-Nya berupa hasil panen. Acara ini diawali dengan kirab hasil bumi berupa “Robyong” yang berisi ketela pohon, padi, jagung, dilengkapi pula dengan tumpeng pancawarna.

  • Prosesi Unggah-Unggahan Jatilawang (Jatilawang Unggah-Unggahan Procession)

Prosesi ini dilaksanakan di makam Bonokeling desa Pekuncen – Jatilawang setiap bulan Sadran satu minggu sebelum datangnya bulan Puasa. Peserta selamatan biasanya membawa binatang peliharaan seperti kambing atau sapi untuk dimasak secara massal yang disebut “Becek”.

  • Prosesi Jaro Rojab (Jaro Rojab Procession)

Upacara Jaro Rojab yaitu prosesi penggantian Jaro (pagar) lama dengan jaro baru di komplek Makam Kyai Tulih yang terletak di sekitar Masjid Saka Tunggal Wangon, dilaksanakan setiap tanggal 10 Rajab.

  • Prosesi Jimat Kalibening (Kalibening Heirloom Procession)

Prosesi penjamasan/pencucian pusaka yang ada di desa Kalibening kecamatan Banyumas, yang dilaksanakan setiap tanggal 12 Maulid. Proses penjamasan pusaka ini menggunakan air yang diambil dari sumur pesucen.

  • Prosesi Jimat Kalisalak (Kalisalak Heirloom Procession)

Prosesi pencucian jimat Kalisalak, kecamatan Kebasen, dilaksanakan setiap tanggal 12-13 Rabiul Awal. Biasanya benda-benda pusaka yang dijamas berupa uang logam, peluru/pelor, daun lontar dan kendil.

Itulah segelintir prosesi adat di kabupaten tempat saya berdomisili….😄.. Bila dipikir-pikir banyak juga budaya yang dimiliki Indonesia. Jadi kita sebagai generasi muda harus melestarikannya. Karena kalau bukan kita siapa lagi???

Let’s save our culture !!!!

NEGERI YANG BERBUDAYA

Mungkin bagi setiap orang beranggapan bahwa setiap negara yang maju akan meninggalkan nilai-nilai budaya leluhur. Anggapan itu akan pupus bila kita melongok ke negeri sakura. Why?? Karena di sana merupakan negara maju yang masih memegang teguh budayanya. Ga percaya?? Ayo kita sedikit plesir ke sana!
Kebudayaan Jepang sangat unik dan beragam, seperti misalnya : para wanita Jepang yang diharuskan untuk mempelajari kebudayaan tradisional seperti upacara minum teh (chadao), merangkai bunga (kadao) dan tata cara menggunakan kimono dalam festival-festival daerah. Selain itu ada juga budaya tradisional yang masih di pegang teguh bangsa Jepang seperti : kabuki, noh, dan bunraku.
salah satu budaya jepang
Dan hebatnya lagi bangsa Jepang tetap memegang teguh budayanya hingga sekarang. Trus bagaimana bisa mereka melakukan modernisasi tanpa ngorbanin kebudayaan mereka? ? Ternyata ada yang unik nih, Mengingat bahwa hal penting yang menjadi ciri orang Jepang adalah menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dan komitmennya dalam mengembangkan perasaan simpati, penghargaan, dan semangat. Tradisi yang melekat kuat pada bangsa Jepang ternyata tidak menghambat proses modernisasi, bahkan nilai-nilai tradisi yang ada menjadi suatu faktor pendorong bagi kemajuan Jepang. Dengan kata lain bangsa Jepang dapat melakukan modernisasi tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisi yang ada di masyarakat Jepang bahkan dapat membentuk kepribadian seperti disiplin, pemaaf dan pekerja keras. Wah hebat ngga tuh?? Jadi mereka mengambil makna atas semua tradisi leluhur dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Jepang yang sekarang adalah perpaduan yang harmonis antara kemajuan teknologi dengan kebudayaan kuno yang masih mengakar di dalam persendian bangsa Jepang. Dengan belajar dari bangsa ini maka dapat diambil pelajaran bahwa teknologi yang canggih dan kemajuan ilmu pengetahuan tidak cukup membawa suatu bangsa menjadi bangsa yang besar dan dihormati oleh bangsa lain, tetapi juga harus diimbangi dengan tetap memelihara sikap, prinsip dan nilai-nilai tradisi luhur yang menjadi ciri khas dan identitas bangsa tersebut.
So, mulai dari sekarang kita harus memegang teguh budaya kita. Dan senantiasa terus bekerja dan belajar menggapai cita. Agar kelak bangsa kita ini dikenal sebagai bangsa yang maju dan berbudaya seperti atau bahkan melebihi bangsa Jepang. Karena bila dilirik, budaya kita jauh lebih beragam dibanding budaya Jepang. Ganbotte kudasai (berusahalah-red) !!! Indonesia pasti bisa !!!

Let’s Become The Real Heroes !!!!

Di masa yang disebut-sebut sebagai masa kemajuan jaman. Hak-hak para pejalan kaki di Indonesia kian hari kian dibatasi. Semakin banyak trotoar yang dialih fungsikan sebagai tempat berjualan para PKL. Selain itu, bila kita amati para pejalan kaki jumlahnya makin berkurang. Banyak yang beralasan tidak efektif, tidak mengikuti perkembangan jaman, dan alasan-alasan lain yang semakin tidak masuk akal.

Bila kita coba berpikiran lebih luas, berjalan kaki maupun mengendarai motor atau mobil bukan merupakan indikator bangsa itu maju atau tidak. Coba kita lihat negara maju di dunia.

trotoar di jepang

trotoar di jepang

 

Contohnya Jepang yang notabene sebagai bangsa berkepribadian dan negara maju. Lebih banyak masyarakatnya yang memilih jalan kaki untuk bertransportasi. Untuk pergi ke tempat yang lebih jauh mereka memilih untuk menaiki angkutan umum. Sehingga di sana jalan-jalannya lebih penuh sesak oleh pejalan kaki di banding kendaraan pribadi. Bahkan banyak diantara pejalan kaki tersebut yang merupakan orang-orang berdasi.

Di negara-negara di Eropa lain lagi, mereka lebih memilih mengendarai sepeda dan bis kota atau kereta di banding menaiki kendaraan pribadi. Lain pula di China yang merupakan salah satu negara dengan kemajuan ekonomi tinggi. Di sana, para pengendara mobil pribadi sangatlah sedikit.

Bila kita renungkan Indonesia dari tingkat perekonomian jauh di banding negara-negara yang telah di sebut di atas. Namun tingkat pejalan kaki di Indonesia semakin menipis. Banyak yang merasa gengsi bila harus jalan kaki, naik sepeda maupun naik kendaraan umum. Bahkan banyak yang beranggapan bahwa mereka yang berjalan kaki berasal dari low class dan merasa nggak level untuk bergaul dengan mereka. Cukup miris bukan ?

Selain itu bila kesadaran untuk berjalan kaki di Indonesia meningkat, kita dapat berbangga sebagai negara yang mengurangi dampak Global Warming. Bila kita amati sekitar, misal sekolah maupun kampusmu coba hitung berapa pengguna kendaraan pribadi dan hitung berapa jumlah sumbangan emisi gas untuk memperburuk demam yang sedang diderita Bumi kita ini. Cukup banyak kan? Kalau saja mereka memilih untuk berjalan kaki, bersepeda maupun naik angkot. Kita dapat menurunkan demam si Bumi secara bertahap bukan? Tak ada yang perlu kita salahkan dengan semua ini. Janganlah memojokan pemerintah, jangan pula menuding para pedagang kecil yang menghalangi trotoar. Mulailah dari diri kita sendiri. Sedikit-sedikit cobalah membiasakan diri berjalan kaki. Jangan takut dicibir oleh orang lain. Banyak manfaat yang dapat kita ambil dari jalan kaki. Selain tubuh kita sehat, kita juga dapat disebut sebagai pehlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan yang menurunkan panas bumi. Dan menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Let’s became The Real Hero !!!!